Menu Tutup

Sejarah Singkat Kota Palembang, Asal Nama Palembang

Sejarah Kota Palembang Asal Nama Palembang

Selaku kota paling tua diIndonesia, Palembang mempunyai riwayat yang layak untuk tetap di ingat, pada masanya merupakan kota air yang menjadi pusat pemerintah Kerajaan Sriwijaya. Bahkan sebagai warganya kita akan berbangga dengan sebutan kota ini pada masa itu sebagai Venesia dari Timur.

Asal Nama Palembang

Sebutan ini memang mungkin terjadi, karena Dahulu kota ini dipenuhi dengan sungai dan juga rawa-rawa, dan itu menjadi transportasi utama bagi setiap warga palembang di kala itu. Topography yg benar-benar dikitari oleh air, bahkan dapat dikatakan tergenang oleh air, hampir setengah dari tanah di Palembang tergenang oleh air.

Palembang “Tempat yang digenangi oleh air”
— (Kamus Bahasa Melayu)

ini juga yang menjadi alasan nama Palembang. Menelisik kedalam kamus bahasa melayu, Pa memiliki arti sebuah tempat, dan Lembang merupakan genangan air. setidaknya istilah tersebutlah yang digunakan masyarakat pada masa tersebut, untuk menamai venesia versi timur ini. Tempat yang digenangi oleh air.

Palembang Di Masa Lalu

Kota Palembang di periode Kesultanan Palembang-Darussalam yang diteruskan dengan periode penjajahan Belanda lalu kemudian masuk ke periode kemerdekaan RI, terhitung sejak tahun 1780 sampai dengan tahun 1950 an. Di awal periode itulah menjadi tahun lahirnya kota Palembang.

Kesultanan Palembang terdiri dari dua periode kesultanan, yakni periode kesultanan di bawah Sultan Mahmud Badaruddin I, dan periode kesultanan di bawah Sultan Mahmud Badaruddin II. Semenjak kematiannya SMB II yang disemayamkan di Ternate, Di periode Sultan Mahmud Badaruddin I pusat kesultanan ialah di keraton yang disebutkan dengan “Kuto Lamo” yang dibangun di tahun 1737, dan di periode Sultan Mahmud Badaruddin II pusat kesultanan lebih dikenal dengan nama “Kuto Besak” yang dibangun di tahun 1780.

Ke-2 keraton itu, Kuto Lamo dan Kuto Besak berada berdampingan di pinggiran sungai Musi. Letak Kuto Lamo diprediksi dari teritori yg sekarang jadi Museum Sultan Mahmud Badaruddin II sampai ke Areal Masjid Agung Palembang. Sedang letak Kuto Besak ialah teritori benteng Kuto Besak saat ini yang bertemu langsung dengan Sungai Musi.

Penjajahan Belanda selanjutnya lakukan peningkatan kota pada periode itu. Belanda membantu dengan mendirikan Kantor Ledeng yang dipakai selaku menara air pada masa itu, tetapi saat ini jadi gedung kerja Walikota. Dan saat itu, Belanda juga membuat permukiman di seputar Talang Semut Lama, dan saat ini, Kamu dapat melihat peninggalan rumah-rumah Belanda di Daerah Talang Semut, khas dengan corak Belanda dengan jendela yang besar & kaca patri tua.

Karakter fisik kota Palembang pada tempo dahulu, secara geografis adalah wilayah yang dikuasai oleh sungai dan rawa, untuk itu pada periode itu pemerintahan kota penjajahan Belanda membuat dua buah kolam serapan air hujan di teritori pemukiman Belanda, ke-2 kolam serapan itu saat ini diketahui dengan panggilan Kambang Iwak Besak dan Kambang Iwak Kecik.

Posted in Palembang

Tulisan Terkait