Menu Tutup

Palembang dari Masa Kerajaan Hingga Kesultanan

Palembang dari Kerajaan Hingga Kesultanan

Kerajaan Melayu Sriwijaya-Palembang, merupakan Kerajaan Sriwijaya yang pertama kali disebutkan, dalam tulisan peziarah Cina Budha I-ching, yang mengunjunginya pada tahun 671 setelah pelayarannya. dituliskan bahwa, Palembang dijadikan sebagai ibu kota negara kerajaan Budha Sriwijaya dari abad ke-7 hingga akhir abad ke-12, ketika pusat kesultanan bergeser ke kota Jambi di barat laut. Pada abad ke-13 Palembang berada di bawah dominasi kerajaan Hindu Majapahit, yang berbasis di pulau tetangganya pulau Jawa.

Sriwijaya Palembang Runtuh

Ketika Palembang menolak otoritas Jawa pada akhir abad ke-14, kekaisaran menanggapi dengan menghancurkan kota. Meskipun Palembang yang porak poranda tetap menjadi pengikut Majapahit, kota ini diperintah oleh pedagang Cina sampai Majapahit hancur sekitar pergantian abad ke-16. Sementara itu, Palembang telah masuk Islam, dan pada pertengahan abad ke-17 kota ini menjadi pusat kesultanan.

Palembang Zaman Belanda

Pada 1617 Perusahaan Hindia Timur Belanda mendirikan pos perdagangan di Palembang, dan pada 1659, setelah beberapa pembantaian karyawannya oleh penduduk setempat, membangun benteng. Kesultanan kadang-kadang berada di bawah kekuasaan Inggris (1811–14, 1818–21) yang pada akhirnya dihapuskan oleh Belanda pada tahun 1823 (meskipun sultan tidak menyerah sampai 1825).
Palembang diduduki (1942-1945) oleh Jepang selama Perang Dunia II. Pada tahun 1948 kota ini menjadi ibu kota negara otonom Sumatera Selatan, yang bergabung dengan Republik Indonesia pada tahun 1950. Pada tahun 2006 kesultanan Palembang dihidupkan kembali melalui pelantikan sultan baru, Mahmud Badaruddin III, yang menjabat sebagai administrator kurang dari sebagai simbol warisan sosial dan budaya kota.

Landmark Kota Palembang

Selain Jembatan Ampera, landmark terkenal Palembang termasuk Masjid Agung (1740, menara 1753), Museum Sultan Mahmud Badaruddin II, yang bertempat di istana sultan awal abad ke-19 kota, makam beberapa sultan, dan Universitas Sriwijaya (1960).

Kota pelabuhan ini dapat diakses oleh trafik laut di Sungai Musi dan memiliki perdagangan yang cukup besar dengan pelabuhan di Semenanjung Malaya dan di Thailand dan Cina serta pelabuhan Indonesia lainnya. Ekspors termasuk karet, kopi, kayu, produk minyak bumi, batu bara, teh, rempah-rempah, resin, rotan, kina, dan lada. Ada juga galangan kapal, pengecoran besi, toko mesin, pabrik karet, dan faktories pupuk. Pinggiran dari kota Sungai Gerong dan Plaju, terletak di timur, memiliki kilang minyak yang besar. Palembang terhubung dengan tempat-tempat sekitarnya melalui kereta api dan jalan darat, dan juga memiliki bandara yang menawarkan penerbangan domestik dan layanan internasional terbatas ke Malaysia.

Posted in Palembang

Tulisan Terkait